ULAMA’ DAN AKTIVITAS POLITIK

Makna Politik Islam

Dr Samih Athif Az-zain dalam buku  As-siyasah wa As-siyasatu Ad-dauliyyah, menjelaskan makna  siyasah secara bahasa sebagai berikut[1]:

ساس الدوب يسوسها سياسة, اذا قام عليها وراضها وادبها…

“Apabila seseorang mengurus hewan tersebut, membimbing serta melatihnya”. Maka pengertian politik kebanyakan digunakan untuk ri’ayah (pemeliharaan), pembinaan serta pelatihan hewan tunggangan. Kemudian  secara majazi digunakan untuk ri’ayah (pemeliharaan) terhadap urusan masyarakat. Ibnu Ahmad al-Farahidi dalam Kitab al-‘Ain menyatakan[2]:

والراعي يرعاها رعاية إذا ساسها وسرحها

Pengarang kitab Al-mughrib fii tartibil Mu’rib, juga menegaskan hal yang sama[3]:

وَيُقَالُ الرَّجُلُ ( يَسُوسُ ) الدَّوَابَّ إذَا قَامَ عَلَيْهَا وَرَاضَهَا ( وَمِنْهُ ) الْوَالِي يَسُوسُ الرَّعِيَّةَ سِيَاسَةً أَيْ يَلِي أَمْرَهُمْ

Jadi  dapat kita simpulkan bahwa kata siasah identik ri’ayah.

Secara lebih spesifik  pengertian politik di dalam Islam didiskripsikan di dalam Mu’jamu Lughatil Fuqaha’ dengan[4]:

 رعاية شئون الامة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية.

 “Pemeliharaan terhadap urusan umat baik di dalam negeri maupun di luar negeri sesuai dengan syariah Islam”.

Makna seperti inilah yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah ra[5]:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

 Imam an-Nawawi dalam shahih Muslim bisyarhin Nawawi menjelaskan pengertian “tasusuhum al-anbiyaa’” dengan: Mengatur urusan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh para pemimpin dan wali terhadap rakyat (nya)[6].

Dalam hadits diatas Rasulullah SAW menegaskan, bahwa yang mengatur atau yang memelihara  urusan Bani Israil adalah para nabi, sedangkan untuk umat beliau SAW adalah para khulafa’, dan jumlahnya banyak. Maka Imam Al-hafidz An-nawawipun menegaskan[7]:

وَمَعْنَى هَذَا الْحَدِيث : إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاء بِهَا ، وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاء بِهَا ، وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا ، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ ، وَسَوَاء كَانَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَد ، أَوْ أَحَدهمَا فِي بَلَد الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره ، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء,

“Makna hadits ini adalah apabila terjadi bai’ah untuk seorang khalifah setelah (sebelumnya dibai’ah) khalifah, maka bai’ah yang pertamalah yang benar, dan wajib mencukupkan diri dengan bai’ah untuk yang pertama tersebut. Sedangkan bai’ah yang kedua adalah bathil dan haram mencukupkan diri dengan bai’ah tersebut. Dan haram atas yang kedua menuntut bai’ah, baik apakah dia tahu ataupun tidak terhadap bai’ah yang pertama. Baik mereka berdua ada di dua negeri atau di satu negeri,  atau salah satu dari keduanya berada di negerinya yang (posisinya) terpisah sedangkan yang lain di luar negerinya. Inilah yang benar dimana shahabat-shahabat kita di dalamnya, begitupula Jamahir Al-ulama’…”

Penjelasan singkat ini sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi kita untuk menegaskan kembali bahwa politik di dalam Islam adalah hal yang ma’lumun minaddin bidz dzarurah. Banyak nash baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah yang menegaskan hal yang sama. Dalam surah an Nahl ayat 89, ditegaskan:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Sayyidina Abdullah Ibn Mas’ud ra menjelaskan, sebagaimana dikutip oleh Al-hafidz Ibn Katsir dalam tafsirnya[8]:  “Sungguh Dia (Allah) telah menjelaskan untuk kita semua ilmu dan semua hal”. Ayat ini menegaskan bahwa Allah melalui al-Qur’an telah menjelaskan semua hal, tentu termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Khulashatul qaul, politik dapat kita definisikan sebagai permeliharaan (ri’ayah) urusan umat baik dalam negeri maupun luar negeri, yang subjeknya adalah Negara dan umat. Negara, secara real melaksanakan pemeliharaan tersebut, dan umat yang melakukan control terhadap ri’ayah yang dilakukan oleh Negara. Muhammad M Radhi dalam tesis masternya di Universitas Baghdad yang berjudul Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fi Iqamati Daulatil Khilafah[9] menegaskan bahwa kurang lebih seperti inilah definisi politik dalam Islam menurut para Ulama’ baik yang kontemporer maupun yang terdahulu. Jadi, kalau kita bicara politik dalam Islam artinya kita sedang bicara tentang ri’ayah terhadap urusan umat dengan menerapkan hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan serta kontrol umat terhadap penguasa yang merupakan subjek ri’ayah tersebut. Dengan begitu kita  menjadi mafhum mengapa ketika para Fuqaha’ sedang mengkaji masalah politik, mereka selalu mengkaitkan dengan imamah, atau khilafah. Karena tanpa khilafah dan imamah tersebut aktivitas politik dalam Islam tidak akan sempurna dilakukan[10].

Politik  dalam Islam adalah suatu yang maklumun minad din bidz-dzarurah.  Memisahkan   politik dari Islam, dengan menjadikan Islam hanya sebatas ritus dan moral adalah  pendiskreditan Islam. Logis  kalau Ide  pemisahan Islam dengan politik ini tidak kita jumpai pada generasi Islam terdahulu. Ini adalah ide ‘nyleneh’ yang sebelumnya tidak dikenal di dalam Islam.

Aktivitas Politik Ulama

Dengan definisi politik seperti yang tadi maka fokus aktivitas politik adalah ri’ayah yang dilakukan oleh penguasa terhadap masyarakat, dan  kontrol terhadap ri’ayah tersebut. Subjek pertama adalah penguasa, dan yang kedua adalah masyarakat. Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ منكُمْ أمّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ ويَأمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ ويَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُولئكَ هُمُ المُفْلِحُون

Rasulullah menjelaskan pada kita pengertian “ilal khair” sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Mardawaih yang dinukil oleh imam al-Hafidz Ibn Katsir dengan “mengikuti Al-qur’an dan sunnahku”[11]. Imamul Mufassirin al-Imam Al-hafidz Ath-thabari menjelaskan bahwa pengertian kata “umat” adalah jama’ah[12]. Sedangkan  pengertian “ilal khair” adalah pada Islam dan syariatnya. Imam al-Qurthubi menjelaskan: Kata “min” dalam ayat tersebut adalah li at-tab’idh (menunjukkan makna sebagian)[13]. Dan maknanya, kata beliau adalah wajib adanya para Ulama’ (yang melakukan kewajiban tersebut) dan bukan setiap manusia. Kemudian beliau melanjutkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu hukumnya fardhu kifayah[14].

Ada tiga point penting yang bisa kita fahami dari penjelasan tiga Ulama’ tafsir terkemuka tersebut. Pertama, bahwa keberadaan jama’ah yang melakukan aktivitas seperti yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah fardhu kifayah. Kedua, aktivitas jama’ah tersebut adalah mengajak pada Al-qur’an dan Sunnah Nabi SAW atau dengan kata lain pada Islam dan syariatnya serta melakukan aktivitas amar makruf nahi munkar. Ketiga, bahwa para Ulama’ lebih wajib dibanding yang lain.

Disini ada yang perlu digarisbawahi,  bahwa mengajak pada al-khair atau pada Islam dan syariatnya, bukan berarti kita terjebak pada perdebatan masalah-masalah yang sifatnya ijtihadi, tidak…! Kita  tidak boleh memaksakan kesamaan pendapat atas sesuatu yang memang secara syar’i boleh atau bisa berbeda. Justru menyamakan hal-hal tersebut malah bertentangan dengan Islam. Karena ikhtilaf dalam masalah hukum sudah terjadi sejak masa rasulullah SAW.

Tentang hal ini  Hadzratusy syeikh KH Hasyim Asy’ari dalam kitab At-tibyan fii an-Nahyi an al-Muqatha’ah Al-arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan berpesan pada para Ulama’[15]: “…Wahai manusia, diantara kalian (saat ini) sedang bercokol orang-orang kafir yang telah memenuhi seluruh penjuru negeri, lalu siapa dari kalian yang (berani) menolak untuk diskusi dengan mereka atau menolak untuk ‘legowo’ terhadap arahan  mereka? Wahai para Ulama’ untuk masalah semacam ini, bersungguh-sungguhlah serta berta’assublah. Adapun   ta’assub kalian pada masalah cabang dalam agama, serta pemaksaan kalian semua pada manusia untuk (mengikuti) madzhab yang satu dan pendapat yang satu, hal tersebut tidak diterima oleh Allah, juga tidak diridhai oleh Rasulnya SAW. Sungguh pemaksaan kalian atas hal tersebut tidak ada motif lain kecuali karena ta’assub, saling bersaing atau karena saling dengki. Kalau seandainya Asy-syafi’i, Abu hanifah, Malik, Ahmad, dan Ibnu Hajar, serta Ar-ramli (masih) hidup tentu mereka akan mengingkari kalian dengan keras, dan mereka akan berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian lakukan…”

Alhasil, sudah seharusnya kita memfokuskan pada hal-hal yang pokok; contohnya tentang kewajiban  bertahkim pada hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan adalah konsekwensi akidah kita sebagai Mukmin.

Dr Samih Athif Az Zein dalam bukunya As-siyasah wa Siyasah Ad-dauliyyah menyatakan:[16] “… Maka politik sebagaimana kita ketahui, adalah pemeliharan  serta perbaikan, penegakan, petunjuk, serta bimbingan. Artinya politik itu identik dengan kebaikan serta perbaikan. Namun  sosok politik yang cemerlang ini dikaburkan dengan konvensi (yang berlaku) di masyarakat saat ini bahwa politik itu identik dengan perilaku menyimpang dari yang haq, dan pendiskripsian bahwa politik itu identik dengan kebohongan, kecurangan serta penyesatan yang memang lazim dilakukan oleh para politikus serta penguasa (saat ini).  Artinya penyimpangan (perilaku) para politikus dari yang haq, kezhaliman yang mereka lakukan terhadap rakyat, serta perampasan terhadap kepentingan masyarakat tersebut telah mengacaukan pengertian politik yang bersih. Akibatnya  para penguasa tersebut menjadi  ‘musuh’ rakyat, padahal seharusnya  politik tersebut menjadikan mereka sebagai para wali yang shalih serta muhsin. Hal tersebut mengantarkan pada munculnya metode yang sangat berbahaya dan ini dieksploitasi secara habis-habisan oleh para propagandis pemisahan agama dan Negara. Bahkan  hal tersebut semakin mengkristalkan propaganda mereka untuk menjauhkan para pengemban agama dari politik dengan dalih bahwa orang yang ta’at beragama adalah manusia yang takut pada Allah, mereka tidak boleh menceburkan diri dalam aktivitas politik, karena politik itu penuh dengan kebohongan, tipu muslihat serta keculasan dsb. Ini adalah memaparkan fakta yang tepat, tapi tujuannya batil… “.

Begitulah diskripsi Az Zain. Idzan  kita bisa memahami mengapa dengan dalih menjaga kesucian nilai-nilai Islam, para Ulama’ dan pengemban dakwah ‘dilarang’ mendekati politik, karena politik identik dengan kebohongan, tipu muslihat serta keculasan. Hebatnya  seruan yang diback up oleh kafir Barat  ini hampir merata di seluruh negeri Islam. Inilah gerakan trans nasional…

Benar, bahwa aktivitas politik saat ini memang seperti yang digambarkan oleh Az-zain. Politik  dalam sistem kapitalis-sekuler menjadikan kaedah “tujuan menghalalkan semua cara” sebagai kaedah pokok bahkan ya’lu wala yu’la alaih. Wajar kalau banyak hal yang tidak benar yang terjadi, banyak kezaliman bahkan ‘pemerkosaan’ terhadap hak-hak masyarakat. Pelayanan kesehatan mahal, pendidikan mahal, jumlah dana masyarakat yang dipakai bayar utang LN jauh lebih besar dibanding biaya pembangunan, penjualan asset Negara ke asing dsb seakan ‘lagu merdu’ bagi kita semua. Celakanya ‘kekacauan’ yang terjadi akibat dominasi sistem kapitalistik ini, justru dijadikan alat oleh mereka untuk mencegah kembalinya Islam dalam kehidupan masyarakat dengan ‘melarang’ para Ulama’ dan para pengemban dakwah dalam aktivitas politik. Padahal biang kerok lembah hitam politik tersebut karena diterapkannya sistem kapitalis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Aktualisasi kongkritnya adalah dengan menjadikan Ulama’-Ulama’ terdahulu radhiyallahu anhum sebagai contoh! Dalam kitab-kitab tarikh  tercatat dengan tinta emas sepak terjang para Ulama’ dalam melakukan aktivitas politik. Misalnya,  apa yang dilakukan oleh Abdullah Ibn Thawus.

Dalam kitab Wafiyyatul A’yan, Ibn Khalikan meriwayatkan pertemuan antara Ibn Thawwus yang didampingi oleh Malik Ibn Anas rahimahumallahu Ta’ala dengan Abu Ja’far al-Manshur sebagai berikut[17]: “Ketika Abu Ja’far Al-manshur memanggil Abdullah bin Thawwus bersama dengan Malik bin Anas rahimahumallah, setelah mereka masuk, beberapa saat kemudian Abu Ja’far Al-manshur menoleh  pada Ibn Thawwus dan berkata padanya beritahu saya (hadits) dari bapak anda. Ibnu Thawwus berkata telah menceritakan pada saya bapak saya “sesungguhnya manusia yang adzabnya paling dahsyat pada hari kiamat kelak adalah seorang laki-laki yang menyekutukan Allah Ta’ala dalam kekuasaannya, yaitu dengan melakukan aniaya dalam pemerintahannya”. Abu Ja’farpun terdiam untuk sesaat. Malik bercerita: akupun melipat bajuku karena kwatir darah Ibn Tawwus mengenai bajuku. Kemudian Al-manshur berkata pada Ibn Thawwus, berikan padaku tinta  itu. Al-manshur mengulang permintaannya sampa tiga kali, tapi Ibn Tawwus (tetap) tidak melakukannya. Al-manshur berkata lagi, anda tidak mau memberikan tinta itu? Ibn Thawwuspun menjawab: saya takut anda menulis dengan tinta tersebut suatu yang maksiyyah, dan kemudian (karena mengambil tinta itu) menjadikan aku bersama-sama dengan anda dalam maksiyyah tersebut… Ketika Al-manshur mendengar hal tersebut dia berkata: (anda) melawan saya?  Ibnu Thawwus menjawab: tidak, saya tidak membangkang (pada anda)… Kemudian Malik berkata: saya selalu ingat keutamaan ibn Thawwus sejak hari itu.

Ulama’ seperti inilah yang kita rindukan… tidak takut pada siapapun kecuali al-khaliq yang menciptakan dia. Masih tentang Ulama’, al-Qadhi Ibn Iyadh berkata[18]: “Ulama’ itu adalah ibarat ‘bunganya’ umat ketika musim semi. Apabila orang sakit melihatnya, kalaulah  tidak menyembuhkan paling tidak akan meringankan. Apabila orang fakir melihatnya dia merasa menjadi kaya”. Rasanya ini cukup untuk bagi kita untuk menggambarkan apa dan bagaimana Ulama’ itu.

Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin mengklasifikasikan Ulama’ menjadi dua kategori besar, Ulama’ dunia atau Ulama’ su’ dan Ulama’ akhirat. Ulama’ dunia ciri-cirinya antara lain adalah menjadikan ilmu untuk mendapatkan kenikmatan duniawi serta sebagai sarana untuk memperoleh kemasyhuran dan popularitas. Sedangkan Ulama’ akhirat sebaliknya[19].

Jadi Ulama’ yang kita maksud adalah Ulama’ akhirat. Yakni Ulama’ yang takut pada Allah karena dia ‘alim tentang Allah, serta ‘alim terhadap batasan-batasan yang ditetapkan Allah, serta apa-apa yang difardhukan-Nya.

Aktualisasi Ulama’ saat ini? Realnya  adalah seperti yang digambarkan oleh Syeikh Ali Bin Haj  Ulama’ terkemuka FIS, dalam kitabnya Fashlul Kalam fii Muwajahati Dzulmil Hukkam[20].  Pertama, Ulama’ yang memadukan ilmu dan amal. Yaitu  Ulama’ yang  connected antara ilmu yang dia  kuasai dengan aktivitas yang dia lakukan. Kedua, selalu membela dan memperjuangkan hak-hak umat.

Bagi kita sebenarnya pernyataan para salafush shalih saja sudah lebih dari cukup untuk memahami kedudukan para Ulama’ dalam Islam. Al-hasan misalnya, dia berkata[21]: “kalaulah bukan karena Ulama’ maka manusia akan seperti hewan ternak”. Yahya bin Mu’adz menegaskan[22]: “Ulama’ itu lebih menyayangi umat Muhammad dibanding bapak dan ibu mereka. Ketika dia ditanya mengapa begitu? Dia menjawab karena bapak dan ibunya menjaga mereka dari neraka dunia sedangkan Ulama’ menjaga mereka dari neraka akhirat”.

Secara  singkat Imam Fakhruddin ar-Razi di dalam tafsir Mafatihul Ghaib fii At-tafsir menjelaskan bahwa di dalam al-Qur’an Allah mendiskripsikan tentang Ulama’ dengan lima “manaqib”. Pertama, tentang keimanannya, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali imran ayat 7. kedua, tentang tauhid dan syahadah, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 18. Ketiga, banyak menangis, sebagaimana firman Allah salam surah Al-isra’ ayat 109. keempat, khusyu’ sebagaimana firman Allah dalam surah Al-isra’ ayat 107, dan yang kelima adalah takut (pada Allah), sebagaimana firman Allah dalam surah fathir ayat 28.[23]

Peran Ulama’ saat ini? Sebelum membahas hal tersebut ada baiknya kita memotret sekilas kondisi obyektif kita, kaum Muslim. Allah berfirman di dalam Al-qur’an Surah Ar-rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Al-hafidz Asy-syaukani dalam tafsir Fathul Qadir menjelaskan pengertian ayat diatas, bahwa sesungguhnya syirik dan maksiah itu merupakan sebab dzahirnya “fasad” di dunia[24]. Sedangkan Imam Abul ‘Aliyyah sebagaimana dikutip oleh al-Hafidz Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa siapa yang maksiyah pada Allah di atas bumi, sungguh dia telah menimbulkan kerusakan di bumi, karena baiknya bumi dan langit adalah dengan ketaatan (pada Allah)[25].

Jadi dalam prespektif Islam fasad atau kerusakan yang selama ini terjadi seperti banjir, tanah longsor, krisis social, penjajahan ekonomi dan campur tangan asing pada hampir seluruh dimensi kehidupan, begitu pula dengan  hilangnya kemerdakaan kita adalah  buah perbuatan maksiyah yang kita lakukan.

Tentu  peran Ulama’ dalam mengupayakan menghilangkan kefasidan multi dimensional  itu adalah penting sekali. Mengapa? Karena pada diri para Ulama’ terpadu dua hal yang istimewa. Pertama. pemahaman  tentang Allah yang akan melahirkan sikap hanya  takut pada adzab Allah, sikap ikhlash, serta ta’at pada Allah. Kedua, pemahaman tentang batasan-batasan atau larangan-larangan yang telah ditetapkan Allah serta hal-hal yang difardhukan oleh-Nya, yang diperlukan untuk melaksanakan keta’atan pada Allah.

Mengutip penjelasan Syeikh Ali Bilhaj diatas bahwa ciri Ulama’ adalah terpadunya ilmu dan amal pada dirinya, serta selalu membela hak-hak masyarakat. Dengan ilmunya para Ulama’ sangat faham bahwa menerapkan hukum Allah adalah merupakan konsekwensi akidah kita. Bahkan kita memahami  hal tersebut juga dari para Ulama’. Guru-guru kita baik di Pesantren, kulliyatul Mua’allimin, majlis ta’lim, pengajian maupun di sekolah dan di Pergurun Tinggi. Pada saat yang sama kita juga mengetahui bahwa kita sebagai rakyat telah lama hak-hak kita terabaikan. Kita  terus menerus terdzalimi. Pendidikan mahal, perawatan kesehatan semakin tidak terjangkau, BBM langka, harga-harga bahan pokok melambung tinggi, lebih menyedihkan lagi kita dipaksa untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa jaminan keamanan, terutama harta saat ini telah menjadi ‘makhluq’ langka. Ketika kita ditimpa bencana pemerintah juga lebih sering lamban dst.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud[26], At-tirmidzi[27], Ad-darimi[28], Ibnu Hibban[29], dan Imam Ath-thabarani[30] serta Ath-thahawi[31] Rasulullah SAW menegaskan:

… وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْم

 “… Bahwa Ulama”’ adalah ahli waris para Nabi. Dan para Nabi itu tidak mewariskan dinar atau dirham tapi mewariskan ilmu… “.

Jadi adalah suatu hal yang maklum kalau  para Ulama’ sosok yang menonjol adalah keberadaannya sebagai ahli waris para Nabi; yakni dakwah dan ilmu (tentang dien). Secara singkat kiprah Ulama’ dalam partai politik paling tidak ada tiga point.  Pertama, bersama-sama dengan kaum Muslimin dengan menempatkan diri pada garda terdepan dalam melakukan aktivitas kolektif yang sifatnya wajib kifa’i. Yakni dakwah ilal khair; yakni berdakwah untuk mengajak pada Islam dan (penerapan) syariah,  serta amar makruf nahi munkar. Mengapa berada di garda terdepan? Karena dengan paduan ilmu dan amal para Ulama’, tentu Ulama’ akhirat,  memiliki isthitha’ah diatas kaum Muslimin pada umumnya dalam berdakwah ilal khair serta amar makruf nahi munkar. Bukankah Imam al-Qurthubi diatas telah menegaskan bahwa yang (lebih) diwajibkan melaksanakan perintah Allah dalam Surah Ali imran 104 diatas adalah para Ulama’?

Kedua, dengan tidak diterapkannya hukum Allah dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat maka kewajiban kita, kaum Muslimin terutama para Ulama’ adalah memperjuangkan untuk penerapan hukum Allah pada seluruh aspek kehidupan, atau dengan istilah lain isti’naf al-hayah al-islamiyyah dengan iqamah ad-daulah al-khilafah. Kewajiban berhukum pada hukum Allah ini adalah konskwensi akidah kita.

Tentu para Ulama’ tahu  wajibnya menjelaskan pada masyarakat bahwa adanya Imam atau khalifah untuk menerapkan hukum Allah, menolong sunnahnya, membela yang didzalimi serta menempatkan hak-hak pada tempatnya adalah fardhu kifayah. Ini amanah ilmu. Rasulullah SAW menegaskan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah,  sanksi yang akan diberikan di hari kiamat kelak bagi yang mereka yang kitman terhadap Ilmu dengan sabda beliau[32]:

مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْمًا فَيَكْتُمُهُ إِلَّا أُتِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ النَّارِ

“Tidaklah seorang laki-laki yang menghafal satu ilmu lalu dia menyembunyikannya kecuali dia akan didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan (diberi) kekang dengan (kekang) dari api neraka”.

Alhasil, tidak seorang Ulama’ pun yang mempersoalkan kewajiban ini. Selama kewajiban ini belum tertunaikan maka kewajiban tersebut tetap terbebankan pada seluruh kaum Muslim yang terkena taklif. Tentunya para Ulama’ lebih wajib dibanding yang lain.

Namun masih ada sebagian dari kita yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut karena alasan tidak mampu. Dan  bukankah Allah tidak membebankan kewajiban lebih dari yang kita mampu? Benar… bahwa Allah tidak akan membebankan di pundak kita kewajiban yang diluar kemampuan kita. Begitulah penjelasan Imam al-Hafidz ibn Katsir[33] dan Imam Al-qurthubi[34] ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala surah al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Pertanyaannya apakah nashbul khalifah litathbiqi syari’atillah merupakan kewajiban yang di luar batas kemampuan kita? Memang… kalau kewajiban tersebut hanya dilaksanakan  oleh individu-individu  kaum Muslimin, tentu akan melampaui batas kemampuan mareka. Tapi bukankah kewajiban nasbu al-khalifah tersebut adalah fardhu kifayah? Kewajiban yang dibebankan terhadap kita kaum Muslimin secara umum terutama para Ulama’? Artinya, selama kewajiban tersebut belum tertunaikan maka kewajiban nashbul khalifah tetap dibebankan diatas pundak kita, seluruh kaum Muslimin. Tentu diam, dan tidak memperjuangkan hal tersebut tanpa udzur syar’i tidak bisa dikategorikan tidak mampu, apatah lagi menghambat atau menentang perjuangan tersebut.

Ketiga. Masih menurut Syeikh Ali bin Hajj, ciri Ulama’ yang berikutnya adalah selalu  membela hak-hak umat. Bagaimana? Dengan dua hal. Pertama, menyadarkan umat akan hak serta kewajiban mereka. Dengan menjelaskan fakta yang sebenarnya terjadi serta mengungkapkan secara jujur dan ikhlash bagaimana asing telah men-setup seluruh segmen kehidupan sehingga mereka bisa menguasai seluruh urat nadi ekonomi, melakukan control total terhadap sistem politik dan sosial tanpa peduli terhadap nasib masyarakat. Tentu  hal ini membutuhkan kemampuan berfikir politik yang prima. Kedua, melakukan muhasabah terhadap penguasa. Inilah   kurang lebih kiprah para Ulama’ yang di idam-idamkan oleh umat. Wallahu a’lam.


[1] Lihat Dr Samih Athif Az-zain, As-siyasah wa As-siyasah Ad-dauliyyah, hal 31

[2] Lihat Ibnu Ahmad al-Farahidi, Kitab al-‘Ain, juz I hal 136

[3] Lihat Al-mughrib fii Tartib Al-mu’rib, Juz III hal 107

[4] Lihat Muhammad Qal’aji, Mu’jamu Lughatil Fuqaha’, juz I hal 253

[5] Lihat Amirul Mukmukmin fii Al-hadits, Imam Muslim bin Al-hajjaj An-naisaburi, Shahih Muslim, juz IX hal 378  hadits nomor 3429

[6] Imam Al-hafidz Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa An-nawawi, Syarah An-nanawi ‘ala Shahihil Muslim, juz VI hal 316 syarah hadits nomor 3420

[7] Idem

[8] Imam Al-hafidz Abul Fida’ Ismail Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil Adzim, juz IV hal 594

[9] Untuk lebih lengkapnya silahkan lihat Muhammad M Radhi, Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu wa Manhajuhu fi Iqamati Daulatil Khilafah, hal 194

[10]قال الامام ابو القاسم الشافعي النيسابوري:  … أجمعت الأمة على أن المخاطب بقوله { فاجلدوا } هو الإمام حتى احتجوا به على وجوب نصب الإمام فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب. ( الامام أبو القاسم الحسن بن محمد بن حبيب بن أيوب  الشافعي النَّيْسابُورى, تفسير النيسابوري, الجزء 5 صحيفة 465)

[11] Lihat Al-hafidz Abul Fida’ Ismail Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil Adzim, juz II hal 91

[12] Lihat Imam Al-hafidz Abu ja’far Ath-thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, juz VII hal 90

[13] Lihat Imam Al-qurthubi, Al-jami’ li Ahkamil Qur’an Juz IV hal 165

[14] idem

[15] Lihat Al-allamah Asy-syeikh Muhammad Hasyim Asy’ari, At-tibyan fi An-nahyi ‘an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan hal 33

[16] Lihat Dr Samikh Athif Az Zein, As-siyasah wa Siyasah Ad-dauliyyah hal 32

[17] Lihat Ibn Khalikan, Wafiyyatul A’yan, juz II hal 511

[18] Lihat Asy-syeikh Abu Abdul Fatah Ali bin Haj, Fashlul Kalam fii Muwajahati Dzulmil Hukkam, hal 255

[19] Lihat Hujjatul Islam Abu Hamid Al-ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz I hal 62-65

[20] Lihat Asy-syeikh Abu Abdul Fatah Ali bin Haj, Fashlul Kalam fii Muwajahati Dzulmil Hukkam, hal 255-258

[21] Lihat Syeikh Ali bin Hajj,  Fashlul Kalam fii Muwajahati Dzulmil Hukkam, hal 255

[22] Idem hal 255-256

[23] Lihat Imam Fakhruddin Ar-razi, Mafatihul Ghaib fii At-tafsir, Juz I hal 458

[24] Lihat Imam Al-hafidz Asy-saukani, Fathul Qadir, Juz V hal 475

[25] Lihat Imam Al-hafidz Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil Adzim, juz VI hal 320

[26] Lihat Imam abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Juz X hal 49

[27] Lihat Imam At-tirmidzi, Sunan at-tirmidzi, Juz IX hal 296

[28] Lihat Imam Ad-darimi, Sunan Ad-darimi, Juz I hal 383

[29] Lihat Imam Ibn Hibban Al-basthi, Shahih Ibn Hibban, Juz I hal 171

[30] Lihat Imam Ath-thabarani, Musnad Asy-syamiyyin, juz IV hal 175

[31] Lihat Imam Al-hafidz Ath-thahawi, Musykilul Atsar, Juz II hal 465

[32] Lihat Imam Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, juz I hal 305

[33] Lihat Imam al-hafidz Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil adzim, juz I hal 737

[34] Lihat Imam Al-qurthubi, Al-jami’ li Ahkamil Qur’an, Juz III hal 429

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s