Category: Tsaqafah Islam

menyajikan sudut pandang khas

KHILAFAH DAN PEMIKIRAN KETATANEGARAAN WARISAN RASULULLAH *)

Oleh Yuana Ryan Tresna, Peneliti Raudhah Tsaqafiyyah Indonesia Khalifah dan Khilafah Sistem pemerintahan warisan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Khilafah. Nabi bersabda,  أُوصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ … Continue reading KHILAFAH DAN PEMIKIRAN KETATANEGARAAN WARISAN RASULULLAH *)

KISAH SEORANG BUZZER KEKUASAAN DAN AIBNYA YANG TERBONGKAR

Oleh: Yuana Ryan Tresna Secara etimologi, buzzer adalah lonceng, bel, atau alarm yang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan banyak orang di suatu tempat dengan tujuan untuk menyampaikan suatu pengumuman. Saat ini, penggunaan istilah “buzzer” sering dipakai dalam aktivitas media sosial. Dalam konteks media sosial, arti buzzer adalah … Continue reading KISAH SEORANG BUZZER KEKUASAAN DAN AIBNYA YANG TERBONGKAR

PENTINGNYA KEYAKINAN DI JALAN DAKWAH

Oleh: Yuana Ryan Tresna

Dakwah adalah perjalanan panjang berliku. Manisnya akan terasa ketika seseorang bersabar menjalaninya. Diantara modal penting dalam dakwah adalah keyakinan. Keyakinan ini akan mengobarkan api semangat yang menyala-nyala. Keyakinan akan membuat pengemban dakwah berdiri tegak dan terus maju. Keyakinan tersebut adalah keyakinan akan balasan bagi yang berjuang di jalan dakwah, keyakinan akan jalan perjuangan ini didasarkan kepada manhaj dakwah Rasulullah, keyakinan akan kemenangan bagi dakwah, keyakinan akan kekalahan orang-orang kafir dan nasib buruk penentang dakwah, dan keyakinan akan balasan bagi para pengemban dakwah yang istiqamah dan sabar. Keyakinan tersebut tumbuh karena didasarkan pada dalil yang qath’i (meyakinkan) atau karena didasarkan kepada akidah Islam.

Balasan Agung Bagi yang Berjuang di Jalan Dakwah

Agama adalah nasihat. Diantara wujud nasihat adalah dakwah kepada penguasa (muhasabah) dan umat Islam. Sebagaimana sudah maklum, dakwah merupakan sebaik-baik perkataan dan seruan. Allah Swt berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada ucapan orang yang menyeru manusia kepada (agama) Allah dan beramal salih serta berkata, Aku termasuk orang yang berserah diri.”  (QS.  Fushshilat: 33).

Sebagaimana pesan hadits Nabi Saw bahwa “al-dîn al-nashîhah” (HR. Muslim dan Abu Dawud), Rasulullah secara khusus telah memuji aktivitas mengoreksi penguasa zhalim, untuk mengoreksi kesalahannya dan menyampaikan kebenaran kepadanya,

أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang haq pada pemimpin yang zhalim.” (HR. al-Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud, al-Thabarani, al-Baihaqi).

Diperjelas lagi hadits lainnya,

سَيِّدُ الشُهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدُ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muthallib dan orang yang mendatangi penguasa zhalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian ia (penguasa zhalim itu) membunuhnya.” (HR. al-Hakim, al-Thabarani).

Kalimat afdhal al-jihâd dalam hadits pertama merupakan bentuk tafdhîl (pengutamaan), yang menunjukkan secara jelas keutamaan mengoreksi penguasa, menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang berbuat zhalim. Sedangkan dalam hadits yang kedua, orang yang mengoreksi penguasa, lalu dizhalimi dan dibunuh, maka dianugerahi predikat sebagai sayyid al-syuhadâ’ (penghulu mereka yang mati syahid). Kedua kalimat ini jelas merupakan indikasi pujian atas perbuatan mengoreksi penguasa, dalam bentuk ikhbar (pemberitahuan) yang berfaidah wajib. Itu semua menunjukkan bahwa orang yang berdakwah dan berjuangan di jalan Allah, termasuk aktivitas politik untuk mengoreksi penguasa zhalim, akan diganjar oleh Allah Swt dengan balasan yang besar.

Jalan Perjuangan yang Didasarkan kepada Manhaj Dakwah Rasulullah

Rasulullah Saw sejak permulaan dakwah Islam, beliau sudah mendapati tantangan yang demikian keras dari masyarakat Quraisy. Bahkan, dakwah Rasul Saw dan para sahabatnya mendapatkan perlawanan. Berbagai penganiayaan ditimpakan kepada Rasul Saw dan para shahabat beliau. Ini adalah sunatullah.

Dakwah yang benar adalah dakwah yang didasarkan pada manhaj dakwah Rasulullah Saw. Ini adalah prinsip. Allah Swt berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 “Sesungguhnya bagi kalian pada diri Rasulullah Saw itu terdapat teladan yang baik bagi siapa saja yang menginginkan Allah dan Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab: 21).

Keteladanan yang mencakup metode dakwah untuk menegakkan kehidupan Islam secara totalitas (kaffah). Dengan merujuk pada Sirah Nabawiyah, dapat disimpulkan bahwa thariqah dakwah itu harus melalui jalan umat (an thariq al-ummah), dengan tiga tahapan di dalamnya, yakni: tahapan pembinaan (tatsqif), tahapan interaksi dengan umat (tafa’ul ma’a al-ummah), dan tahapan penyerahan kekuasaan (istilam al-hukm) yang ditandai dengaan penerapan hukum Islam secara menyeluruh dan daakwah ke seluruh penjuru dunia.

Tantangan dakwah Nabi mulai muncul secara nyata pada tahapan kedua. Setelah Nabi Saw dan para shahabat melakukan aktivitas tafa’ul tam (berinteraksi dengan umat secara sempurna), yang ditandai thawaf Nabi Saw dan para shahabat mengelilingi Ka’bah, setelah masuk Islamnya orang-orang kuat di kalangan kafir Quraisy, seperti Hamzah bin ‘Abdul Muthallib dan ‘Umar bin al-Khatthab. Kemudian diikuti dengan aktivitas shira’ al-fikr (perang pemikiran), kifah al-siyasi (perjuangan politik), tabanni mashalih al-ummah (mengadopsi kemaslahatan umat) dan kasyf al-khuthath (membongkar makar jahat penguasa).

Maka, kaum kafir Quraisy memahami benar, bahwa dakwah Nabi Muhammad Saw adalah dakwah pemikiran, yang ingin mengubah pemikiran mereka yang salah. Tapi, mereka juga sadar, bahwa dakwah Nabi Saw juga merupakan dakwah politik, yang akan bisa mengubah pandangan hidup, sikap dan peradaban mereka. Mereka paham, jika ini berhasil, maka kaum mereka akan meninggalkan mereka, dan mengikuti Nabi Muhammad Saw dengan Islam yang diembannya.

Janji Pertolongan dan Kemenangan bagi Dakwah

Kemenangan dakwah adalah suatu keniscayaan. Pertolongan itu ternyata ada pada puncak penderitaan dan kesabaran. Ketika Rasul Saw dan para shahabat mengalami penderitaan, mereka tetap bersabar dan tetap berpegang teguh pada syariah-Nya. Diriwayatkan bahwa karena penderitaan yang luar biasa yang mereka alami, akibat berbagai macam siksaan dan penganiayaan orang-orang kafir, mereka sampai bertanya-tanya kapan pertolongan Allah akan datang. Allah Swt lalu berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang atas kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al-Baqarah: 214).

Karena itu, yang dituntut dari para pengemban dakwah dalam menghadapi semua tantangan, gangguan dan ancaman dalam dakwah adalah meneladani Rasul Saw dan para shahabat beliau. Mereka selalu yakin dengan pertolongan Allah Swt sehingga mereka selalu berkata,

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan sebaik-baik Pelindung. (QS. Ali Imran: 173).

Sesungguhnya cahaya Allah tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh makar manusia. Islam pasti menang. Sesuai janji Allah Swt, sebentar lagi pertolongan-Nya akan segera datang. Islam akan menjadi satu-satunya mabda (ideologi) yang menang atas semua ideologi lain. Allah Swt telah berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Orang-orang kafir itu berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah, tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya (agama)-Nya meskipun orang-orang kafir itu membencinya.” (QS at-Taubah: 32).

Kepastian Kekalahan Orang-orang Kafir dan Penentang Dakwah

Para penentang dakwah pada setiap zaman akan senantiasa ada. Allah Swt berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ

Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin.” (QS. al-An’am: 112).

Imam Jarir al-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa ujian yang disebutkan Allah Swt dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah Saw, tetap juga berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam dakwah.

Di antara upaya menjegal dakwah itu adalah dengan berbagai propaganda atau pemberian stigma negatif baik pada Islam maupun kepada para pejuangnya. Rasulullah Saw dan para shahabat telah mengalami kondisi demikian. Bahkan Rasulullah Saw pernah disebut sebagai orang gila (QS. al-Hijr: 6), tukang sihir (QS. Shad: 4), penyair gila (QS. Shaffat: 37), pemecah-belah persatuan kaumnya, dsb.

Ajaran Islam juga tak lepas dari berbagai cacian. Al-Quran, misalnya, disebut sebagai ayat-ayat sihir (QS. al-Muddatsir: 24), kumpulan dongeng (QS. al-Muthaffifin: 13); juga dituding sebagai karya orang ‘ajam (non Arab), bukan kalamullah (QS. an-Nahl: 103).

Tantangan para pengemban dakwah pada hari ini pun tak berbeda dengan apa yang pernah dialami oleh Rasulullah Saw dan para shahabat. Berbagai upaya dilakukan untuk menjegal dan membungkam dakwah, antara lain dengan cara: Pertama, mengkriminalisasi para da’i dengan tuduhan kaum radikal, mengancam kebhinekaan, membawa ajaran yang tidak sesuai budaya lokal, dll.; Kedua, menangkap para pegiat dakwah; Ketiga, mengkriminalisasi ajaran Islam, terutama syariah dan khilafah.

Ketahuilah bahwa para penentang dakwah akan mengalami kehinaan di dunia dan di akhirat. Mereka akan dikalahkan dengan izin Allah Swt. Sebagaimana para penentang dakwah Nabi pada akhirnya dikalahkan. Adapun di akhirat, mereka akan mendapat siksa yang pedih. Allah Swt berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sungguh orang-orang yang menimpakan fitnah kepada kaum Mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. al-Buruj: 10).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

Sungguh orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Ke dalam Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.” (QS. al-Anfal: 36).

Balasan bagi Pengemban Dakwah yang Istiqamah dan Sabar

Orang yang istiqamah dan sabar di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan banyak keutamaan. Allah Swt telah menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas di dalam al-Quran dan al-Hadits. Diantara ayat-ayat yang berbicara tentang keutamaan istiqamah adalah ayat berikut ini,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah’, Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS. Fushshilat: 30).

Ayat di atas dan ayat lainnya  (seperti QS. Fushshilat: 31-32 dan QS. al-Ahqaf: 13) menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwasanya orang yang istiqamah di jalan Allah akan memperoleh banyak keutamaan, diantara keutamaan tersebut adalah: Pertama, Allah akan menurunkan malaikat kepada orang-orang yang beriman dan beristiqamah di jalan Allah. Malaikat tersebut menghibur dengan ucapan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, juz 15, hlm. 358); Kedua, malaikat akan menjadi penolong (wali) orang yang istiqamah di kehidupan dunia dan akhirat. Menurut Mujahid, malaikat akan menjadi sekutu orang-orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan kelak di akhirat, malaikat itu tidak akan berpisah dengan orang tersebut hingga ia masuk ke dalam surganya Allah. Al-Sudi menyatakan, malaikat akan menjadi penjaga amal orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan penolong di hari akhir. (Imam Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, juz 15, hlm. 360).

Demikian juga dengan sabar. Rasulullah Saw, bersabda,

إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُسْلِمِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ.

 Jika seorang muslim berinteraksi dengan masyarakat, lalu Ia bersabar dari perlakuan buruk masyarakat terhadapnya (dalam dakwah), hal itu adalah lebih baik, daripada seorang muslim yang tidak mau berinteraksi dan tidak bersabar dari perlakuan buruk masyarakat. (HR. al-Tirmidzi).

Imam al-Shan’ani menjelaskan, “Hadits tersebut menjelaskan keutamaan bagi orang yang berinteraksi, menyeru masyarakat kepada kema’rufan, mencegar kemunkaran, dan memperbaiki sistem sosial mereka. Hal demikian itu, lebih baik ketimbang orang yang menyendiri dan tidak mau bersabar dalam berinteraksi.” (al-Shan’ani, Subulus Salam, V/245).

Al-Hafizh al-Munawi berkata, “Kesabaran yang paling besar adalah, sabar berinteraksi dengan masyarakat dan menahan semua perlakuan buruk mereka. (al-Munawi, Faidh al-Qadir, VI/332).

Bahkan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata,

والصابر أعظم أجرا من المنفق لأنّ حسنته مضاعفة إلى سبعمائة

 Orang sabar mendapat pahala lebih besar dari orang yang suka berinfak, karena kebaikan orang sabar dilipat gandakan menjadi 700 kebaikan. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, XVII /274).

Demikianlah pentingnya keyakinan di jalan dakwah. Umat Islam sesungguhnya memiliki modal yang luar biasa untuk menghadapi semua tantangan dan halangan dakwah Islam, yaitu modal keimanan. Mereka mengimani tujuan keberadaan mereka di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt (Lihat QS. al-Dzariyat: 56). Wallahu a’lam.

PERWUJUDAN UKHUWAH ISLAMIYAH

Oleh: Yuana Ryan Tresna

Pendahuluan

 Hari ini kita menghadapi situasi yang sangat kritis. Kondisi ketika ukhuwah telah terkoyak dengan sangat mengkhawatirkan. Pada perkara yang harusnya bersatu, malah tercerai-berai. Sebaliknya, pada perkara yang boleh berbeda, malah hendak diseragamkan. Ketika perkara cabang dalam Islam yang di dalamnya terdapat ragam pendapat dipaksakan harus sama, akibatnya muncul fenomena mudah menyalahkan, mengingkari, membid’ahkan dan mengkafirkan pihak lain. Akhirnya umat Islam sibuk dengan perkara yang sebenarnya tidaklah utama. Padahal ada tanggung jawab yang lebih besar yaitu menyatukan seluruh potensi umat untuk kemuliaan Islam dan umatnya. Hubungan saling mengasihi dan saling peduli seakan sudah sangat langka, tak lagi hidup dalam masyarakat kita. Fenomena yang paling mutakhir, sebagai ujian ukhuwah pada umat ini, adalah kasus Rohingya. Salah satu tragedi kemanusiaan paling buruk yang dialami oleh umat Islam di era modern ini, justru mendapatkan respon beragam di dalam negeri. Sebagian mengatakan itu urusan luar negeri, jangan bawa konflik luar ke dalam negeri, dan seterusnya. Sungguh ini adalah tamparan yang sangat keras, betapa hari ini kita tak berdaya, ukhuwah Islamiyyah hanyalah konsep yang terukir dalam catatan.

Persatuan, Kekuatan dan Kasih Sayang

Dari segi bahasa, kata ukhuwah berasal dari kata dasar akh[un] (أخ). Kata akh[un] (أخ) ini dapat berarti saudara kandung/seketurunan atau dapat juga berarti kawan. Bentuk jamaknya ada dua, yaitu ikhwah (إخوة) yang berarti saudara kandung dan ikhwan (إخوان) yang berarti kawan. Kata “akh[un]” juga bisa bermakna berserikat dengan yang lain karena kelahiran dari dua belah pihak, atau salah satunya atau karena persusuan.[1] Secara istilah, para ulama memberikan definisi yang sangat bervariasi. Meski demikian, semuanya bermuara pada makna “persaudaraan”.

Adapun ukhuwah Islamiyah berarti persaudaraan berdasarkan Islam. Dapat juga dipahami bahwa ukhuwah Islamiyah merupakan suatu ikatan akidah yang dapat menyatukan hati semua umat Islam, walaupun tanah tumpah darah mereka berjauhan, bahasa dan bangsa mereka berbeda, sehingga setiap individu di umat Islam senantiasa terikat antara satu dengan lainnya, membentuk suatu bangunan umat yang kokoh.[2] Visualisasi inilah yang tergambar dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 10. Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum mukmin harus benar-benar kuat, lebih kuat dari pada persaudaraan karena nasab. Hal itu tampak dari digunakannya kata ikhwah. Pada umumnya kata ikhwah dipakai untuk menunjuk saudara senasab, sedangkan ikhwan untuk menunjuk kawan atau sahabat.[3] Dengan memakai kata ikhwah, ayat ini hendak menyatakan bahwa ukhuwah kaum muslim itu lebih dari pada persahabatan biasa. Persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya, ukhuwah Islam tidak terputus karena perbedaan nasab.[4]

Visualisasi ini juga terlihat begitu mempesona dalam hadits berikut,

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (H.R. al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, dll.)[5] Maksud “tidak beriman” ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu.[6]

Urgensi ukhuwah Islamiyah itu paling tidak bisa dijelaskan melalui beberapa keutamaan: pertama, ukhuwah menciptakan persatuan (wihdah); kedua, ukhuwah menciptakan kekuatan (quwwah); dan ketiga, ukhuwah menciptakan kasih sayang (mahabbah). Persatuan, kekuatan dan kasih sayang ini merupakan perkara yang amat vital pada saat ini. Saat dimana umat telah larut dalam orientasi kepentingan kelompok yang berdimenasi jangka pendek.

Beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Ali Imran ayat 103, al-Zukhruf ayat 67, al-Anfal ayat 63, dan termasuk al-Hujurat ayat 10, memberikan pesan kepada kita yang men-tadaburi-nya, betapa ukhuwah itu sangat berharga dalam Islam. Ia adalah pondasi kuat sekaligus mercusuar umat. Ia adalah nikmat sekaligus perkara yang harus dirawat.

Ukhuwah dan Modal Kebangkitan Umat

Diantara perkara utama dari ukhuwah Islamiyah ini adalah bahwa ia merupakan modal kebangkitan umat. Kebangkitan dalam arti meningkatnya taraf berpikir umat yang kemudian mewujud menjadi umat yang berpengaruh, sulit tercapai tanpa modal ukhuwah Islamiyah. Kalau kita lihat sejarah 1400 tahun silam, nampak jelas bagaimana Islam menghimpun orang-orang arab yang saling membanggakan diri, kemudian menghimpun arab dan non arab, kemudian non arab dengan non arab, dan melebur mereka dalam bingkai yang satu. Maka dari mereka terbentuklah umat yang memimpin dunia lebih dari seribu tahun. Islam juga menyatukan manusia secara intelektual dan emosi, dan menjadikan manusia sebagai saudara yang mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Setiap muslim mengetahui hak saudaranya, sehingga ia tidak akan menzhaliminya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

]وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ[

 Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (Q.S. al-Anfal [8]: 63)

Ketika umat Islam bersatu, kaum muslim telah menjadi satu umat yang kuat, yang disegani oleh semua pihak. Kaum muslim ketika itu sangat tangguh karena keperkasaan Rabb mereka, dan sangat mulia karena menerapkan agama mereka. Jika mereka mengeluarkan satu kata, maka kata-kata itu pasti menggema di seluruh pelosok dunia; jika mereka melakukan aksi, maka aksi itu pasti akan menimbulkan rasa gentar di hati orang-orang kafir. Cukup dengan sekali jeritan, seorang muslimah yang meminta tolong (dengan berseru): Dimana Mu’tashim?!”, maka khalifah itu pun segera mengerahkan pasukan yang dipimpinnya sendiri. Beliau menuntut balas untuk (menebus kehormatan) wanita itu dari pihak yang menzhaliminya, dan beliau pun berhasil mengembalikan kemuliaan dan kehormatan wanita itu. Negeri Islam ketika itu dikelilingi dengan pagar kemenangan, sehingga orang-orang kafir tidak berani menerobosnya. Justru umat Islamlah yang telah membuka berbagai futuhat (pembebasan), dan menyebarluaskan kebajikan di seluruh penjuru dunia.

Perwujudan Ukhuwah Islamiyyah

Perwujudan ukhuwah dalam kehidupan umat Islam bentuknya sangatlah banyak. Mulai dari yang berdimensi indvidu sampai dengan dimensi masyarakat. Manifestasi ukhuwah ini akan mewujudkan persatuan, kasih sayang dan kekuatan. Sesuatu yang sangat kita dambakan. Diantara perwujudan tersebut adalah:

 Pertama, menjaga darah, kehormatan, dan harta sesama muslim. Seorang muslim wajib menjaga darah, kehormatan dan harta muslim yang lainnya. Dalam banyak hadits disebutkan bahwa pada asalnya darah seorang muslim haram untuk ditumpahkan. Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.[7] Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ»

 Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah menzhaliminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Taqwa ada di sini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan buruk seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. (H.R. Muslim).

 Kedua, tidak boleh saling menzhalimi. Sebaliknya, sesama muslim harus saling menjaga haknya. Para ulama mendefinisikan al-zhulm dengan menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya atau lawan dari kata al-adl. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ لا يَضْلِمُهُ وَلا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كاَنَ فِي حَاجَةِ أخِيْهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ»

 “Seorang muslim adalah saudara dari seorang muslim (lainya); dan dia tidak akan berlaku zhalim, dan dia tidak meninggalkanya sendirian (menjadi korban kezhaliman orang lain); dan barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhanya”. (H.R. al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, Abu Dawud, al-Nasa’i, dll).

 Ketiga, tidak boleh membiarkan muslim dizhalimi. Bukan hanya tidak boleh saling menzhalimi, seorang muslim juga tidak boleh membiarkan saudaranya dizhalimi atau menjadi korban kezhaliman orang lain. Hal itu pula yang dijelaskan dalam hadits sebelumnya, «وَلا يُسْلِمُهُ». Maksudnya dia tidak meninggalkanya muslim yang lain sendirian (menjadi korban kezhaliman). Bahkan harus melindunginya, menghibur dan membantunya, jangan sampai menghina dan meremehkannya. Inilah wujud dari pemisalan dalam hadits Nabi bahwa umat Islam itu bagaikan bangunan yang saling menguatkan.[8]

 Keempat, tidak boleh membuka aib (keburukan) saudaranya. Diantara kewajiban yang juga dibebankan kepada kita sebagai muslim adalah menjaga kehormatan saudaranya dengan tidak membuka aibnya. Salah satu bentuk kasih sayang Allah ta’ala adalah menutup aib kita. Maka, tidak pantas manusia justru membuka aib saudaranya. Maksud di sini adalah menutupi kesalahan orang-orang yang baik, bukan orang-orang yang sudah dikenal suka berbuat kerusakan.[9] Nabi mengingatkan dengan qarinah (indikasi) yang tegas,

«وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

 “Dan barang-siapa yang menutupi (‘aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi ‘aibnya di hari kiamat.” (H.R. al-Bukhari)

Kelima, tidak boleh berprasangka buruk. Tidak jarang perpecahan antar sesama muslim bermula dari adanya prasangka buruk. Pada konteks inilah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan akan hal ini,

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوْا وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَلَا تَبَاغَضُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا»

 “Janganlah kamu berprasangka (buruk), karena berprasangka buruk itu adalah perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari dan memata-matai kesalahan orang lain, janganlah iri hati satu sama lain, janganlah memutuskan hubungan satu sama lain, jangan saling membenci dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara.” (H.R. Muttafaq ‘Alayh). Imam al-Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa kata الظَّنَّ yang dimaksud adalah berprasangka buruk (syu’ al-zhan).

 Keenam, tidak boleh menawar barang yang sedang ditawar saudaranya. Dalam hadits lain disebutkan larangan berjual-beli atas jual-beli saudaranya. Ini adalah hukum dan adab dalam praktik muamalah yang sangat indah. Dalam sabdanya, Nabi menyampaikan,

«لَا يَسُمْ الْمُسْلِمُ عَلَى سَوْمِ أَخِيهِ»

“Janganlah seorang muslim menawar harga barang yang telah ditawar (dan disepakati harganya) oleh muslim lainnya.” (H.R. Muslim, al-Tirmidzi)

 Ketujuh, tidak boleh melamar atas lamaran saudaranya. Islam melarang seseorang melamar (mengkhitbah) seorang perempuan yang sedang dilamar saudaranya. Jika hal itu dilakukan, bukan hanya terlarang,[10] juga akan menimbulkan ekses negatif berupa sengketa antara para pihak.

«لَا يَخْطُبْ أَحَدُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ»

Janganlah salah seorang di antaramu melamar atas lamaran saudaranya” (H.R. Abu Dawud)

 Kedelapan, tidak boleh mengadu-domba dan ghibah. Salah satu sebab perpecahan antar umat Islam juga karena ada pihak yang mengadu-domba (namimah) dan perilaku ghibah (membicarakan keburukan orang lain). Namimah dan ghibah, keduanya adalah hal yang sangat tercela.[11] Terkait namimah, redaksi larangannya juga disampaikan dengan sangat tegas,

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»

 “Tidak akan masuk surga, ahli namimah.” (H.R. Muslim)

 Kesembilan, membebaskan saudaranya dari kesulitan dan kemiskinan. Allah ta’ala memberikan garansi, bahwa siapa saja yang menghilangkan kesulitan saudaranya, baik besar maupun kecil, pasti Allah akan menghilangkan kesulitannya di hari kiamat.[12]

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»

 Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan seorang mukmin, niscaya Allah akan menghilangkan kesulitannya di hari kiamat, dan barangsiapa yang memberi kemudahan kepada orang yang susah, maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.” (H.R. Muslim)

Kesepuluh, larangan memutuskan tali persaudaraan. Bahkan jika ada perselisihan diantara sesama muslim, tidak boleh putusnya hubungan persaudaraan itu lebih dari tiga hari. Artinya jangan saling menjauhi, saling bermusuhan, memutus persaudaraan, saling membelakangi atau mendiamkan lebih dari waktu tersebut.[13] Salah satu dari keduanya harus memulai merajut kembali tali persaudaraan dengan mengawali mengucapkan salam. Nabi berpesan,

«لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ»

 “Tidak halal (boleh) seorang muslim menyisihkan saudaranya lebih dari tiga hari, jika keduanya bertemu, maka yang seorang berpaling kesana dan yang seorang lagi berpaling kesini. Tetapi yang paling baik diantara yang kedua itu ialah siapa yang memulai mengucapkan salam kepada yang lainnya. (H.R. Muttafaq ‘Alayh)

Penutup

Ukhuwah itu menyatukan, menghangatkan dan menguatkan. Ukhuwah Islamiyah juga mengokohkan dan membangkitkan. Kondisi umat Islam saat ini yang hanya untuk peduli pada urusan umat (ihtimam bi amr al-muslimin) saja sulit, merupakan indikasi bahwa umat ini sedang lemah dan tak berdaya. Di sisi lain penjajahan di negeri-negeri Islam demikian nyata. Kelemahan ini harus segera diakhiri dengan merajut kembali ikatan ukhuwah Islamiyah agar menjadi kokoh, menenun kembali helaian mahabbah agar nampak indah, dan merangkai kembali mozaik peradaban sehingga kita benar-benar pantas mewarisi kepemimpinan atas bumi ini. Mengambil pelajaran dari kisah Mesir yang berhadapan dengan Fir’aun, mari kita renungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini:

]وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ[

 “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (Q.S. al-Qashash [28]: 5). Wallahu a’lam. []

 

[1] Lihat Luis Ma’luf, Kamus al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, hlm. 5.

[2] Lihat Musthafa al-Qudhat, Mabda’ al-Ukhuwah fi al-Islam, hlm. 14.

[3] Lihat Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, juz 8, hlm. 111.

[4] Lihat Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, juz 8, hlm. 212.

[5] Lihat Ibnu Hajar, Fath al-Bariy, juz 1, hlm. 58.

[6] Lihat Imam al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, juz 1, hlm. 126

[7] Lihat Imam al-Nasa’i, Sunan al-Nasa’i, juz 7, hlm. 82. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi No. 1395.

[8] Lihat M. Fuad Abd al-Baqi, Al-lu’lu’  wa al-Marjan, hlm. 1012.

[9] Lihat Ibnu Daqiq al-Ied, Syarh al-Arba’in al-Nawawiyyah, Hadits No. 36.

[10] Para ulama berbeda di dalam memahami larangan dalam hadits di atas, sebagian dari mereka mengatakan haram, sedangkan sebagian berpendapat makruh

[11] Larangan ghibah, lihat al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 dan Sunan Abi Dawud dari jalan ‘Aisyah ra.

[12] Lihat Muhammad al-Mubarakfury, Tuhfah al-Ahwadzi, juz 8, hlm. 395.

[13] Lihat Musthafa Dieb al-Bugha, Al-Wafiy fi al-Syarh al-Arba’in al-Nawawiyyah, hlm. 289

تيسير تدريس البلاغة وصعوباته

مقدّمة: أهمية تدريس البلاغة العربية للبلاغة أهمية كبيرة يكتسبها الطلبة بعد تدريسهم لها،[1] وهى بذلك تحقق الأهمية التالية: تعلم البلاغة صناعة الأدب والأداء الرفيع، وتسهم فى تكوين الذوق الأدبى وتنميته. كما أنها تبصر بالصفات التى تكسب النص الأدبى رفعة وسموا إذ تشكل الجانب الموضوعى فى … Continue reading تيسير تدريس البلاغة وصعوباته

Muqaranah Syarah Hadits dari Ragam Madzhab (Aplikasi Kaidah Qath’iyyah Al-Wurûd wa Al-Dilâlah)

Pendahuluan Pembahasan hukum dalam kitab-kitab syarah Hadits, khususnya syarah al-kutub al-sittah, pada umumnya memiliki corak pemikiran hukum sesuai dengan madzhab penulisnya, karena setiap penulis kitab syarah Hadits akan menggali kandungan hukum dalam Hadits-Hadits yang mereka syarah berdasarkan pola ijtihad madzhabnya. Mengingat ushul fiqh dalam satu … Continue reading Muqaranah Syarah Hadits dari Ragam Madzhab (Aplikasi Kaidah Qath’iyyah Al-Wurûd wa Al-Dilâlah)